Keluarga Mintarsih, Perumnas Sawojajar II Kota Malang
Hampir setiap orang akan mengamini, bekerja ke Hong Kong pasti erat kaitannya dengan tujuan mencari uang. Untuk masa depan, untuk kesejahteraan, dan untuk sebuah perubahan. Namun demikian, standar seperti apa itu kesejahteraan, masa depan maupun perubahan, setiap orang pasti punya pandangan berbeda-beda. Perbedaan itu sifatnya sangat personal. Individual differences, mungkin itu sebutan yang pas jika kita mengutip istilah para ahli sosiologi.
Bagi Mintarsih, BMI Hong Kong asal Kelurahan Kedoya Barat, Kecamatan Kedungkandang, Kabupaten Malang, ukuran keberhasilannya bekerja di Hong Kong adalah mengentaskan pendidikan bagi ketiga anaknya. Bukan semegah apa rumah yang berhasil ia bangun, semewah apa mobil yang berhasil ia beli, atau seluas apa tanah yang berhasil ia tebus.
Dengan dilandasi pemikiran seperti itulah, Mintarsih menanamkan kepada ketiga anaknya bahwa jika ingin memiliki masa depan dengan kehidupan layak, modal yang paling utama adalah pendidikan yang layak pula. Lantas, bagaimana sikap dan penerimaan ketiga anak Mintarsih?
Dari Jalan Terusan Wisnuwardhana No 89 Perumnas Sawojajar II Kota Malang, Anjar Wahyu Astuti, anak pertama Mintarsih – didampingi dua adiknya: Rini Handayani, dan Heru Prabowo – menyuarakan sikap dan kesan mereka terhadap pengertian dan pemahaman hidup yang ditanamkan oleh Mintarsih, ibunda mereka, sejak masih kecil.
”Ibu, sebelumnya Anjar menyampaikan terima kasih yang tiada terkira. Sebab, tanpa keputusan dan pilihan yang ibu lakukan, kami bertiga – anak-anak ibu – tidak akan berada dalam keadaan seperti sekarang. Meskipun kami anak seorang janda yang menjadi TKW, namun kenyataannya Allah swt sangat bermurah hati memberikan anugerah kepada kami bertiga hingga bisa mengenyam pendidikan sampai bangku perguruan tinggi.
Kami sangat bersyukur sekali, Bu. Tidak setiap anak memiliki dan merasakan kesempatan seperti yang telah kami bertiga rasakan selama ini. Kami pun sangat bersyukur memiliki ibu yang punya cara pandang bagus, berwawasan luas, dan selalu berpikir jauh ke depan. Tanpa pemikiran yang didukung dengan ikhtiar ibu bekerja ke Hong Kong, sulit membayangkan seperti apa kehidupan yang kami jalani sekarang.
Ibu, alhamdulillah kuliah Anjar sudah mendekati ambang kelulusan. Tanggal 20 Desember 2008 kemarin Anjar ujian skripsi, dan hari itu juga para penguji menyatakan Anjar lulus dengan predikat sangat memuaskan. Nilai skripsi Anjar ”A”, bu. Nilai yang mudah-mudahan akan membuat ibu bahagia. Dan tak lama lagi, tahun 2009 ini, insya Allah Anjar diwisuda. Artinya, yang menjadi beban tanggungan ekonomi ibu tinggal Dik Rini dan Dik Heru. Tapi Dik Rini juga sudah hampir lulus. Jika semuanya berjalan lancar dan tidak ada perubahan serta rintangan, insya Allah mendekati akhir tahun ini Dik Rini juga akan diwisuda dengan gelar diploma III.
Ibu, memang kapan Anjar akan diangkat menjadi guru negeri masih belum jelas. Anjar sendiri juga tidak tahu. Namun, seperti pesan ibu, Anjar akan tetap menjaga komitmen terhadap profesi guru seperti yang ibu nasehatkan. Alhamdulillah, meski belum diwisuda, kelanjutan dari program PKL dulu, berlanjut sampai sekarang. Anjar menjadi guru sukarelawan di sebuah SMP swasta tempat Anjar dan teman-teman dulu melaksanakan program PKL. Meski saat ini gajinya sangat pas-pasan untuk biaya hidup Anjar seorang diri, namun Anjar menjalaninya dengan penuh keikhlasan. Sebab, memang sejak kecil profesi inilah yang Anjar cita-citakan.
Terakhir bu, tolong sampaikan ucapan terima kasih Anjar, Rini dan Heru kepada keluarga besar majikan ibu: Fong Pik Kwa, atas kebaikan mereka selama ini terhadap ibu dan kita. Sampai-sampai, mereka terketuk hati dan kepeduliannya membelikan kita rumah di kawasan perumahan Sawojajar ini. Meskipun kecil dan sederhana, namun artinya sangat luar biasa. Semoga yang Maha Kuasa akan memberikan balasan yang berlipat untuk mereka.”
Kamis, 25 Juni 2009
”Alhamdulillah... Nilai Skripsi Anjar A, Bu”
at 14.15
Labels: edisi lama, Kampung Halaman
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 comments:
Posting Komentar