SURABAYA – Pulang kampung bagi perantau adalah momen istimewa. Apalagi tempat rantauan jauh melintas negara. Seperti kita pekerja migran ini. Banyak hal yang jauh-jauh hari sudah dipersiapkan. Transportasi dari bandara menuju rumah, salah satunya. Sejauh pengamatan Apakabar selama ini, 98% dari Buruh Migran Indonesia, terutama wanita, menyiapkan kendaran jemputan berupa mobil pribadi atau sewaan. Alasan utamanya adalah demi keamanan. Meskipun untuk itu, harus merogoh kocek agak dalam.
Dari informasi yang Apakabar kumpulkan, tarif jemputan pribadi dengan kendaraan roda empat dari Bandara Juanda ke daerah-daerah kantong BMI di Jawa Timur relatif mahal. Tarif rata-rata ke Blitar dan sekitarnya Rp 500.000, Malang Rp 450.000, Madiun Rp 500.000, Ngawi Rp 600.000., Ponorogo Rp 700.000., dan Trenggalek Rp 800.000. ”Ini belum termasuk biaya makan dan rokok di perjalanan seluruh keluarga yang menjemput plus sopirnya,” tutur Nadia, BMI asal Ngawi. Tahun-tahun lalu, untuk sekali pulang dengan jemputan seperti ini saja Nadia harus keluar hampir satu juta rupiah.
Sayangnya Apakabar belum bisa memburu info dari daerah Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Nusa Tenggara. Tetapi, bisa dipastikan sama-sama mahalnya. Kenyataan itu membuat tidak sedikit BMI yang enggan pulang kampung karena terbatasnya dana, dan terbayang betapa mahalnya biaya untuk kumpul dengan keluarga barang dua tiga minggu. Sebab, selain biaya transpor, ada pengeluaran-pengeluaran lain yang bisa menguras tabungan setara dua tiga bulan gaji.
Kembali ke biaya transpor, sebenarnya ada alternatif lain yang jauh lebih murah. Dari Apakabar selama empat kali pulang kampung, sejak tahun 2005, dengan pulang tanpa fasilitas seperti disebut di atas, kita bisa menghemat pengeluaran hingga 80%. Bagaimana caranya? Yup, dengan bus atau travel.
Sejak Juanda dialihfungsikan sebagai bandara internasional (2002), pemerintah juga meningkatkan fasilitas layanan, termasuk transportasi dari dan ke bandara. Salah satunya dengan menyediakan 15 unit bus DAMRI untuk rute Juanda-Terminal Bungurasih. Bus keluaran baru yang nyaman dengan kapasitas 20 penumpang, menurut Pengawas Angkutan Wilayah Juanda, Widodo (Selasa, 17/2) siap antar-jemput ke Teminal Bungurasih dengan tarif Rp 15.000 saja. Jam beroperasi mulai pukul 03.30 dari Bungurasih, dan hingga 22.00 WIB bus terakhir dari Juanda. Bila menggunakan jasa taksi ke Bungurasih, tarif normal Rp 50.000.
Dari Terminal Bungurasih, kita bisa pilih bus antar-kota tanpa takut lagi. Sebab, sejak lima tahun terakhir, terminal ini sudah banyak perubahan. Lebih tertib, bersih, dan ramah. Tarif bus antar-kota bervariasi. Ke Madiun misalnya, hanya Rp 19.000, kita sudah bisa menikmati perjalanan pulang dengan hiburan live show puluhan seniman musik secara bergiliran. Yap, para pengamen jalanan itu. Tapi bila risih dengan suguhan ini, kita bisa pilih bus patas yang lebih cepat dan nyaman.
Alternatif lain, memesan jasa travel yang sudah menjamur di berbagai kota. Cukup dengan puluhan ribu rupiah, kita bisa lebih tenang menikmati perjalanan pulang. Bila masih takut pulang sendirian, kontak salah satu keluarga untuk menjemput di bandara. Perjalanan dua orang bolak-balik bandara tetap lebih hemat dengan bus atau travel.
Untuk keamanan dan kenyamanan selama perjalanan, hindari mengenakan pakaian atau perhiasan yang mengundang perhatian banyak orang. Bawa bawaan seperlunya. Kalau perlu, paketkan saja dulu oleh-oleh berupa barang yang hanya akan merepotkan.
Jumat, 05 Juni 2009
Berbagai Pengalaman Alternatif Mudik Murah dan Aman
(SUS)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 comments:
Posting Komentar